Search This Blog

Surgaku Yang Hilang

Sang mentari baru saja terbangun dari peraduannya, pancaran jingganya masih tampak begitu lemah, malu-malu, merayap dan tampak mengintip dari ufuk timur. Cahanya terlihat begitu indah dan mempesona, seindah senyum dan tawa putri mungilku.  

Terpancarlah dari wajahnya, raut muka kegirangan, pagi yang dinanti semalaman kini telah datang.

Tadi malam, disaat menjelang tidur, aku bercerita pada putriku, karena besok pagi tanggal merah, madrasah libur, kita berencana berkunjung ke rumah nenek. 

Spontan saja, ia terlihat kegirangan terus berdiri dan meloncat-loncat diatas kasur, sambil berkata yahhh!!! aku udah tak sabar menunggu pagi yaaahhh!! aku ingin bermain boneka, pasir dan sepeda-sepedanan sama dek Dea, dek Rika dan mbak Aira.

Begitu lucunya putriku apalagi ketika lagi kegirangan, kelucuannya semakin bertambah. Memang dirumah ia tidak mempunyai teman kecuali puluhan boneka yang kami berikan sebagai hadiah untuknya. Pantaslah ia terlihat begitu senang apabila tahu akan kami ajak dolan ke rumah neneknya, karena disanalah dia bisa bermain bersama banyak teman yang masih saudara sepupu dengannya.

Setelah semua siap, kamipun berangkat. Karena udara masih begitu segar dan terasa begitu sejuk, jendela mobil aku buka semua. Seperti biasa, sepanjang perjalanan putriku selalu bertanya setiap apa yang baru dilihatnya. Aku harus bersabar dan hati-hati menjawabnya, karena jawabanku itu yang akan ia ingat dan melekat disepanjang hidupnya.

Ada sesuatu yang membuatku heran, putriku yang masih begitu mungil seolah-olah hafal betul jalan menuju rumah neneknya, sehingga bila aku ambil jalur lain karena suatu sebab. Maka, ia akan bertanya. "Yahhh! kok lewat sini? katanya mau ke rumah nenek". Iya...! ini juga jalan ke rumah nenek. Cuma ayah ambil jalur pintas biar cepet sampai, ia pun tampak diam seolah-olah paham akan penjelasanku.

Tak berapa lama, separoh perjalanan lebih sudah kita tempuh, mungkin kalau dibikin persentase mendekati 90% atau bisa dikatakan hampir sampai.Baru saja mobil yang aku setir melewati jembatan kebolampang, tiba-tiba aku dikejutkan teriakan putri mungilku, yah... ayah...!!! yank Agus yah, mampir di yank Agus dulu, maem sego wotan (sarapan nasi karangwotan). Sambil tersenyum aku pun mengangguk dan berkata gehhh... (yaaa...).

Putriku emang suka banget sama sego tempe wotan yank Agus...

Bersambung...!



Subscribe to receive free email updates: