Cari Blog Ini

Penjara


Cerita ini hanyya imaginatif belaka, seandainya ada kesamaan nama dan peritiwa dengan tokoh dan alur cerita yang ada di dalam cerpen ini, kami mohon maaf  sebesar-besarnya, dan perlu untuk diketahui itu semua tidak disengaja.

Sore itu! habis pulang kerja sebagai kuli serabutan, Burhan duduk di teras belakang rumah, di atas bangku bambu yang sudah mulai lapuk. Tatapan matanya kosong, lurus kedepan menatap pohon bambu yang saling berhimpitan satu sama lain karena tertiup angin.

Tak berapa lama sebatang rokok sudah berada dalam jepitan bibirnya, setelah disulut dengan korek api, terlihat asap mengepul keluar dari hidung dan mulutnya. Ada suatu masalah yang teramat berat dirahasiakan Burhan dari keluarganya, terutama istrinya yang sedang hamil anaknya yang ketiga.

Burhan tak mampu membayangkan apa yang akan terjadi pada istrinya, yang sudah tulus ikhlas dan setia bertahun-tahun lamanya mendampingi dirinya mengarungi bahtera hidup berumah tangga dalam kondisi serba pas-pasan, kekurangan dan bisa dikatakan selalu dalam kemelaratan. Tapi! apa dikata, semuanya sudah terjadi, ibarat nasi sudah menjadi bubur. Tidak mungkin dan mustahil bisa kembali menjadi nasi lagi, kalau diibaratkan menyesal kemudian tiada guna. 

Seandainya ada pilihan untuk memutar dan mengulang waktu dalam hidup ini. Hanya satu hal yang akan dipilih Burhan, untuk diulang dan diputar. Yaitu mengulang waktu untuk membatalkan bahkan meniadakan peristiwa yang telah terjadi beberapa bulan yang lalu. Disaat ia bertemu dan berkenalan dengan seorang preman di sebuah terminal bus yang bernama Jokker. Disaat baru saja dia pulang dari perantauan, dan pertemuan inilah yang akhirnya memperkenalkan Burhan pada dunia malam, dunia yang baru saja ia kenal, penuh dengan beraneka macam kesenangan duniawi dengan bumbu syahwat semata. Hingga akhirnya Jokker mempertemukan dirinya dengan sosok wanita paruh baya yang masih  terlihat cantik dan seksi "Tante Selfie (mantan PSK)".

Pertemuan dengan tante Selfie inilah bersambung, berbuntut dan berlanjut dengan perselingkuhan. Akhirnya tante Selfie datang padanya meminta pertanggungjawaban atas kehamilannya. Mengancam, seandainya dia tidak mau bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi. Maka, ia akan melabrak memaksa datang kerumah Burhan dan mengadukan semua yang telah terjadi pada istrinya. Ancaman ini yang membuat Burhan bingung gelap mata dan hati, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Akhirnya, Burhanpun ambil keputusan meminta Jokker temannya untuk membungkam mulut tante Selfie untuk selama-lamanya. Dengan imbalan sepeda montor bodong yang ia miliki.

Setelah beberapa bulan kemudian, terdengar kabar kalau Jokker sudah tertangkap polisi di salah satu pelabuhan ketika hendak mau kabur menyebrang pulau dengan naik kapal. Masalah inilah yang membebani pikiran Burhan hingga beberapa hari lamanya, gelisah, tampak murung, makan terasa tidak enak tidurpun tidak nyenyak.

Mentari senja baru saja masuk dalam peraduannya, meninggalkan surup yang semakin lama terselimuti oleh kegelapan. Lampu Neon panjang 10 Watt chiyoda baru saja dinyalakan di ruang tamu. Belum sampai ia masuk ke kamar, tiba-tiba, terdengar dari luar daun pintu rumahnya, ketukan keras yang tampak aneh, mencekam dan menakutkan. Suaranya benar-benar aneh dan berbeda sangat dengan suara ketukan di hari-hari sebelumnya. Semakin lama semakin terdengar keras ketukannya diiringi suara seorang laki-laki yang tidak dikenal dan tidak pernah didengar sebelumnya. 

Dengan langkah gontai! Burhan melangkah mendekati daun pintu. Begitu pintu terbuka, alangkah terkejutnya Burhan!. Dua orang laki-laki tinggi tegap dan tampak gagah dengan wajah sangar berdiri tepat di depannya. Salah satu dari mereka berkata, "Selamat malam saudara Burhan! malam ini juga anda harus ikut kami ke kantor polisi". Dan laki-laki yang satunya lagi dengan cepat dan tampak cekatan mengikat kedua tangan burhan dengan borgol. "Ada apa ini! kenapa kedua tangannku diikat pak...?" teri'akan Burhan membuat terkejut seisi rumah, istri, orang tua dan kedua anaknya yang masih kecil. Mereka semua keluar berhamburan ke ruang tamu menarik Burhan dari pegangan polisi.

Dalam waktu tak berapa lama, Burhan sudah berada dalam mobil polisi untuk dibawa dan  mempertanggungjawabkan semua yang telah dia lakukakan, keluarganya hanya bisa menatap dengan linangan air mata, penuh tanda tanya dan rasa keheranan. Apa sebenarnya yang terjadi? dan apa pula yang yang telah dilakukan oleh Burhan?  sehingga dia harus berurusan dengan polisi dan akhirnya meringkuk dalam penjara untuk puluhan tahun lamanya.

TAMAT

Subscribe to receive free email updates: