Cari Blog Ini

Kekayaan dan Jabatan Bukan Bukti Allah Mencintai Kita


Kadang-kadang orang menganggap bahwa harta kekayaan, anak-anak, kedudukan dan jabatan adalah bukti Allah cinta kepada seorang hamba. Bila ia kaya raya, bila jabatannya tinggi serta anaknya banyak. Apa itu semua merupakan tanda Allah cinta kepadanya??? Jawabnya : tidak...!!!  Allah telah menyebutkan dalam firman-Nya, QS. Al Mu'minun : 55.

أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ – نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ ۚ بَلْ لَا يَشْعُرُونَ
Artinya :
“Apakah mereka mengira bahwa Kami memberikan harta dan anak-anak kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami segera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? (Tidak), tetapi mereka tidak menyadarinya.” (QS. Al-Mu’minun : 55)

Tolok ukur kecintaan Allah bukanlah harta kekayaan, anak-anak, kedudukan dan jabatan, karena Allah pun memberikan harta yang berlimpah kepada Qarun, padahal Allah tidak mencintai Qarun.

Allah berikan kedudukan, kekuasaan pada Fir’aun, namun Allah tidak mencintai Fir’aun. Lalu bagaimana menganalisa apakah Allah mencintai kita? Bukti Allah mencintai kita adalah ketika harta kekayaan, anak-anak, kedudukan dan jabatan yang kita miliki semakin mendekatkan diri kita kepada-Nya.

Bukti cinta Allah adalah harta kekayaan, anak-anak, kedudukan dan jabatan yang kita miliki mampu menjadi jembatan untuk meraih keridhoan-Nya. Karena segala sesuatu yang kita miliki bila tidak menjadikan kita lebih dekat kepada Allah dan tidak menjadi bekal kita untuk menghadap kepada-Nya, maka semua itu bukanlah bukti kecintaan Allah kepada kita. Bahkan itu adalah cobaan besar bagi diri kita.

Kenikmatan dan cinta Allah adalah ketika kita diberi hidayah, petunjuk dan taufik untuk senang beribadah dan suka berbuat baik. Siapa yang berkata, “jika aku kaya maka aku akan mulia dan jika aku miskin maka aku hina” Anggapan ini telah dijawab oleh Allah dalam Qur'an Surat Al Fajr : 15-16, bahwa kemuliaan dan kehinaan tidak ada sangkut pautnya dengan harta kita.
 فَأَمَّا الإنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ(١٥) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ 
Artinya :
Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, "Tuhanku telah memuliakanku".(15).
Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, "Tuhanku telah menghinakanku.” (16).

Kemuliaanmu adalah ketika engkau mendekat kepada Dzat yang paling mulia. Kemuliaanmu adalah ketika engkau berlomba dalam kebaikan untuk menjadi yang paling dicintai-Nya. Dan selain itu adalah kehinaan demi kehinaan yang akan berakhir dengan siksa. Karena itu seringkali Allah sebut siksaan itu dengan sebutan “siksaan yang menghinakan.” QS.An-Nisa’:37
عَذَابًا مُهِينًا
Artinya : 
“Azab yang menghinakan.” (QS.An-Nisa’:37)

Semoga Bermanfaat 

Subscribe to receive free email updates: