Cari Blog Ini

Biarlah Semua Orang Menganggap Aku Gila


Sore itu... bakdal asyar, 20 tahun yang lalu, aku duduk sendiri dalam keheningan di halaman musholla wetan pinggir sungai di bawah rindangnya rimbunan bambu. Angin sore berhembus semilir, membawa kedamaian dan ketenangan dalam hatiku. Suasana seperti inilah yang aku cari disetiap menghadapi Mid Semester, Semesteran atau bahkan Ujian Nasional sekalipun. 

Di tengah-tengah asyiknya aku membaca lembaran demi lembaran materi yang akan diujikan untuk esok hari. Tiba-tiba kakekku datang dan duduk disebelahku, setelah itu ia meminta agar aku menutup bukuku, karena ia akan bercerita sesuatu hal yang tak seperti biasanya. Yang mana biasanya kakek selalu bercerita sesuatu yang berhubungan dengan syari'at (agama). Ternyata bener...! kali ini kakek bercerita tentang "CINTA" mungkin karena ia tahu, kalau sebentar lagi aku akan lulus Madrasah Aliyah artinya udah gede hhh.

Mulailah kakek bercerita, wajah tuanya menunjukkan keseriusan isi cerita, yang ia dapatkan dari kiyainya waktu dulu ketika masih nyantri. Sebuah cerita yang menyayat hatiku, membuatku turut larut dan hanyut dalam sebuah targedi cinta anak manusia, hingga tak terasa sudut kedua bola mataku basah karena air mata. Kurang lebih 30 menit cerita pun selesai. 

Aku tidak menyangka kalau kakekku mampu menceritakan itu, hingga aku benar-benar tersihir dan menyatu dalam ceritanya. Sampai kini, bila aku mengingatnya aku pasti akan mengingat kakekku pula,  yang telah berpulang ke rohmatullah 4 tahun setelah cerita itu. Tak lupa do'a pun aku lantunkan untuknya...!!! Ila hadroti H. Abdullah bin Haji Hasan bin Haji Sholeh lahu Alfatihah...! Terimakasih kek...  ku akan selalu berdo'a untuk kakek.

Kegemaranku membacalah, yang akhirnya menemukan sebuah novel clasik hingga membuatku terkejut bercampur kagum, karena yang diceritakan kakekku, ternyata sebuah karya sastra termasyhur dari Persia (Iran) abad 9 Masehi yang dikenal sebagai negeri para mullah, dan telah digubah oleh pujangga Nizami Ganjavi abad 12 dari Persia juga. Kini 20 tahun telah berlalu, untuk mengabadikan itu, aku akan menulisnya dalam bahasaku sendiri dan aku kasih judul.

Biarlah Semua Orang Menganggap Aku Gila  

Tersebutlah seorang remaja tampan, cerdas, gagah dari keluarga sederhana dalam sebuah lembaga pendidikan agama, dengan nama panggilan Qais bin Mulawwah. Suatu waktu takdir mempertemukan Qais dengan Laila gadis rupawan, cantik jelita dari keluarga bangsawan terhormat dan kaya raya.  Seketika itu juga Qais pun jatuh cinta pada pandangan pertama,  karena tidak ada sesuatu apapun yang dapat dipersembahkan untuk cintanya, maka sebagai seorang pelajar ia pun menulis puisi dan tulisan-tulisan pujian bag pujangga untuk Laila. 

Semua orang pun dibuat kagum akan keindahan sastra yang dipersembahkan oleh Qais untuk Laila, sehingga Laila pun luluh lantak hatinya dan menyambut cintanya Qais. Tapi sayang sungguh sayang, strata sosial yang begitu terlihat jelas kesenjanganya  antara mereka berdua telah membuat sebuah keraguan di hati teman-temanya Qais maupun Laila akan menyatunya cinta mereka, mungkinkah cinta mereka bersatu? Tapi sungguh disayangkan, Qais telah telanjur menyerahkan sepenuh hatinya untuk Laila, hingga ia tak memperdulikan sekat adat yang menjadi hijab begitu kuat diantara mereka berdua. Hingga Qais pun tak memperdulikan itu semua. Setiap hari puisi-puisi cinta terlahir dari goresan tangan Qais menyanjung dan memuji kecantikan Laila yang terukir indah, memikat dan menawan di hati Qais.  

Lama kelamaan Qais pun dijuluki Majnun (gila) oleh semua orang, karena kegilaannya pada Laila. Setiap hari pekerjaannya hanya menulis puisi cinta dan membacakan pada semua orang yang ia temui di sepanjang jalan, walaupun kebayakan mereka tidak perduli bahkan mengacuhkannya. Qais benar-benar telah berubah menjadi Majnun, bahkan semua orang yang mengenalnya sudah menganggap kalau dirinya benar-benar telah menjadi Majnun. Tapi Qais tidak sedikitpun sakit hati atau dendam bila semua orang telah menganggap dirinya benar-benar Majnun, karena cintanya pada Laila begitu besar sepenuh jiwa dan raga yang ia miliki, karena itulah dia ikhlas dipanggil dengan panggilan Si Majnun atau Si Gila.  Waktu terus merangkak, hingga akhirnya mereka harus berpisah untuk kembali ke kampung halaman masing-masing. Setelah keduanya dinyatakan lulus dari lembaga pendidikan menengah (setingkat MA/SMA).

Laila yang cerdas, cantik, manis dan begitu menawan, terlahir dari keluarga bangsawan terhormat dan kaya raya. Sudah barang tentu kedua orang tuanya sangat berharap kalau putrinya akan dipersunting oleh laki-laki sederajat yang bergelimang harta, terhormat dan berkedudukan tinggi di masyarakat. Tapi cinta Laila yang tulus, murni terlahir dari lubuk hatinya yang terdalam, telah diberikan sepenuhnya kepada sosok pemuda sederhana. Tiada lain tiada bukan dia adalah Si Majnun Qais.  Hingga bila mata si cantik Laila terbuka yang terlihat hanyalah bayangan si Majnun.  Begitu juga sebaliknya, saat tidur bayang-bayang Si Majnun lah, senantiasa hadir dalam setiap mimpi indah Laila. Dan ia pun sangat berharap suatu saat nanti Si Majnun pujaan hatinya akan datang ke rumahnya untuk melamarnya. 

Setamat dari lembaga pendidikan menengah. Qais yang terlahir dari keluarga sederhana dan teramat begitu bersahaja, langsung dihadapakan oleh kedua orang tuanya, untuk belajar mencari penghidupan sendiri dan membantu ekonomi keluarganya, dengan cara merantau dan berniaga dari satu kota ke kota lainnya. Qais  yang tampan, gagah  telah berubah menjadi Majnun/Gila karena cintanya pada Laila yang begitu besar, membuat dirinya sering murung, dan tampak berat pula jalan hidupnya karena terjerat rindu yang teramat begitu dalam pada sosok Si Cantik Laila. Lama kelamaan Qais tak mampu membendung rasa rindu yang semakin bergemuruh dalam relung hatinya seorang diri. Akhirnya, ia pun memberanikan diri  mengutarakan kisah cintanya pada sosok Si Cantik Laila, kepada kedua orang tuanya. Setelah tahu hal itu, kedua orangtuanya pun terkejut sekaligus kasihan pada anaknya, karena tahu siapa itu Laila yang telah menyita sepenuh hati anaknya

Demi kebahagiaan putranya, Mulawwah pun memberanikan diri dan nekat datang ke rumah Tuan Al Mahdi ayah kandung Laila, untuk melamar putrinya. Meskipun sudah tahu dengan pasti akan jawabannya, karena sayangnya Mulawwah kepada anaknya. Ia pun tetap berangkat, Setelah sampai di rumah Tuan Al Mahdi. Apa yang dikawatirkan Mulawwah pun jadi nyata, lamarannya ditolak  mentah-mentah, karena bagi Al Mahdi. Menerimanya, sama saja mencoreng derajat dan kehormatan keluarganya.  

Setelah Si Majnun tahu, kalau lamarannya ditolak oleh ayahnya Laila, ia pun jatuh, terpuruk dan terjebak dalam kesedihan yang teramat sangat dalamnya, ditengah-tengah penderitaanya itu, Si Majnun memutuskan untuk pergi menyendiri berteman kesepian dan kesunyian menunggu kematian tiba. Dan dalam waktu yang tidak begitu lama terdengarlah berita kalau si cantik Laila dipersunting oleh seorang saudagar kaya raya dari negeri Iraq, yang bernama Sa'ad, tanpa sepengetahuan Laila putrinya. Tuan Almahdi menerima lamaran tersebut karena tergiur mas kawin yang begitu banyak dan kekayaan melimpah ruah dari calon sang menantu. Sedangkan Majnun yang berada dalam pengasingan di tengah belantara, kehidupannya semakin tampak begitu memprihatinkan, wajahnya pucat dan muram, badannya mengurus tak terurus, tidak mau berbicara dengan siapapun dan kadang terlihat berbicara sendiri, membacakan puisi-puisi cinta yang menyayat hati dan mengiris jiwa. 

Dalam waktu yang tak begitu lama, pesta perkawinan Si Cantik Laila dan Sa’ad pun telah tiba. Diselenggarakan secara besar-besaran dengan gegap gempita selama tujuh hari tujuh malam. Bahkan konon katanya keramaiannya sampai terasa dan  terdengar keseluruh penjuru negeri tak terkeculai sampai ke kampung Si Majnun, membuat keluarga Mulawwah jatuh dalam keputus asaan. Hilang sudah harapan untuk mengembalikan keceriaan dan kebahagiaan putra semata wayangnya yang telah hilang. Melihat kondisi putranya yang semakin memprihatinkan membuat Mulawwah jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dunia. Sempurna sudah penderitaan Si Majnun Qais. 

Begitu juga dengan Laila, meskipun telah menjadi istri Sa'ad tapi dia tidak bisa, merahasiakan dan membohongi suaminya, kalau sesungguhnya cintanya sudah habis tak tersisa sedikitpun, semua telah diberikan sepenuhnya kepada pemuda sederhana pujaan hatinya Si Majnun. Laila pun berkata, memang raga kami tidak bisa bersatu di dunia, tapi cinta dan jiwa kami tidak bisa dipisahkan oleh kematian sekalipun. Sa'ad ternyata seorang laki-laki yang tidak hanya pandai berniaga, kaya raya tapi hidupnya juga penuh dengan kebijakan, dia menyadari kalau pernikahannya dengan Si Cantik Laila yang begitu ia cintai, bukan karena didasari saling cinta tapi karena perintah dan paksaan orang tuanya yang tergiur oleh kekayaan. Hingga sedikitpun ia tidak memaksakan Laila untuk mencintainya. Karena cinta memang tidak bisa dipaksakan. Tapi nasi sudah menjadi bubur, untuk menjaga kehormatan keluarganya, Sa'ad pun menyimpan rahasia tentang pernikahan mereka yang hanya sebatas lahiriah saja. 

Karena tak kuat menanggung beban penderitaan cinta,  Laila pun jatuh sakit, tambah hari sakitnya pun semakin parah. Tak ada satupun Tabib diseluruh penjuru negeri yang mampu mengobati sakitnya Laila, karena sakitnya bukan karena penyakit tapi karena cinta yang tidak bisa menyatu. Dalam keadaan lemah tak berdaya Laila mengigau memanggil-manggil nama Majnun. Akhirnya Majnun pun dipanggil untuk menemui Laila. Ketika mereka bertemu, Laila memberi pesan terakhir pada semua orang, bahwa mereka akan menyatu nanti di akhirat sebagai sepasang kekasih. Setelah menyampaikan pesan itu Laila pun menghembuskan nafas terakhir. 

Melihat pujaan hatinya telah meninggal, Si Majnun pun putus asa, tak ada lagi keinginan untuk tetap hidup. Setiap hari kerjanya hanya memeluk dan menangisi pusara Laila, tanpa makan dan minum sedikitpun hingga akhirnya Si Majnun pun meninggal. Dan Jasadnya dikuburkan disebelah pusara Laila. Bebarapa tahun kemudian, beberapa musafir yang lewat, menjiarahi pusara sepasang kekasih itu, dan  diatas dua pusara itu telah tumbuh dua tanaman yang dahannya saling berpelukan ditambah sepasang kupu-kupu cantik yang selalu berterbangan diatas pucuk daunnya. 

Maka, terkenallah kisah ini sebagai kisah Laila & Majnun.

Jangan Lupa Baca Juga Cerpen dan Novel dengan klik link-link berikut :
1.  ðŸŒ±ðŸŒ±Aku Bukan Pencuri ðŸŒ±ðŸŒ±
2.  Never United Love
3. Srintil
4. Gadis Berkerudung Jingga
5. Everything Will Pass
6. Biarlah Semua Orang Menganggap Aku Gila
7. Kampung Suwong 
8. Kembalinya Pendekar Rajawali








Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Biarlah Semua Orang Menganggap Aku Gila"

Posting Komentar