Search This Blog

Si Pedang Allah Yang Selalu Terhunus (Saifullah Al Maslul)


Khalid bin Walid adalah sahabat Nabi yang dikenal karena kejeniusannya memimpin pasukan Muslim Madinah dibawah komando Nabi Muhammad dan pasukan Khulafaur Rasyidin zaman Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Khalid telah memenangi ratusan pertempuran melawan Kekaisaran Romawi Timur, Kerajaan Sasanid Persia dan sekutunya, serta berbagai musuh-musuhnya. Di setiap pertempurannya, Khalid bin Walid selalu cleansheet alias tidak pernah terkalahkan sama sekali, sekalipun musuhnya adalah Nabi Muhammad dalam Perang Uhud ketika ia belum memeluk Islam.

Masa Mudanya
Khalid lahir di Mekkah tahun 585. Ayahnya, Walid bin al-Mughirah adalah syekh dari Bani Makhzum, salah satu klan dari Suku Quraisy. Saat masih belia, Khalid sudah mahir dalam hal berkuda dan menggunakan senjata seperti tombak (spear), tombak (lance), panah, dan pedang. Khalid lebih menyukai tombak (lance) daripada senjata yang lain. Khalid dikenal sebagai kesatria dan pegulat diantara Suku Quraisy. Khalid merupakan sepupu dari Umar bin Khattab, mereka berdua hampir mirip karakter dan wajahnya. Khalid sangat disegani oleh Suku Quraisy karena dia pernah mengalahkan Umar bin Khattab, yang notabenya adalah si jago gelut, dalam pertandingan gulat.

Pada saat dibawah kepemimpinan militernyalah, Jazirah Arab untuk pertama kalinya dalam sejarah bersatu dalam satu entitas politik yaitu Kekhalifahan. Khalid mengkomandani pasukan Muslim, walaupun pasukan muslim tersebut baru dibentuk. Khalid dan pasukannya tidak pernah dikalahkan dalam lebih dari 100 pertempuran melawan Kekaisaran Byzantium, Kekaisaran Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka termasuk juga suku-suku Arab di luar kekuasaan Khalifah.

Pencapaian strategis yang ia raih ialah penaklukan Arab selama Perang Riddah, Persia dan Suriah Romawi hanya dalam waktu empat tahun pada tahun 632 ke 636. Khalid juga dikenang karena kemenangan telaknya pada Pertempuran Yamamah, Pertempuran Ullais, dan Pertempuran Firaz, dan kesuksesan taktiknya pada Pertempuran Walaja dan Pertempuran Yarmuk.

Khalid bin Walid, berasal dari Suku Quraisy, klan yang melawan Nabi Muhammad. Dia memiliki peran vital dalam kemenangan Kafir Quraisy sewaktu Pertempuran Uhud melawan pasukan Muslim. Dia menjadi Mualaf dan masuk Islam, bergabung bersama Nabi Muhammad setelah terjadinya Perjanjian Hudaibiyyah serta berpartisipasi dalam berbagai ekspedisi untuk Nabi Muhammad, seperti Pertempuran Mu'tah. Ini merupakan pertempuran pertama antara orang Romawi dan Muslim. Khalid bin Walid melaporkan bahwa pertempuran tersebut amatlah sengit, sampai-sampai dia menggunakan sembilan pedang, yang kesemuanya patah dalam pertempuran tersebut. Pada pertempuran Mu'tah, Khalid ditunjuk untuk menjadi panglima perang pengganti setelah ketiga panglima perang dalam Pertempuran Mu'tah yaitu Zaid bin Haritsah, lalu Jafar ibn Abi Talib, dan Abdullah ibn Rawahah gugur terbunuh secara berurutan dalam pertempuran yang sengit itu.

Pada saat yang genting itu, tampillah Khalid bin Walid, si Pedang Allah yang terhunus, yang menyorot seluruh medan tempur yang luas itu, dengan  kedua matanya yang tajam. Diaturnya rencana  taktik dan langkah yang akan diambil secepat kilat, kemudian membagi pasukannya  kedalam kelompok-kelompok besar dalam suasana perang berkecamuk setiap saat. Setiap kelompok diberinya tugas sasaran masing-masing, dengan kecerdikan akalnya yang luar biasa, sehingga akhirnya ia berhasil membuka jalur luas diantara pasukan Romawi. Dari jalur itulah seluruh pasukan Muslim menerobos dengan selamat. Karena prestasinya dalam perang inilah Rasulullah menganugerahkan gelar kepada Khalid bin Walid sebagai "Saifullah Al-Maslul" atau “Si Pedang Allah yang senantiasa terhunus”.

Setelah kematian Nabi Muhammad, Khalid memiliki peran yang penting dalam memimpin pasukan Madinah untuk Abu Bakar dalam Perang Riddah, selain itu beliau juga berjasa dalam menaklukan pusat Arabia dan juga menundukkan suku-suku Arab. Dia merebut Negara Arab Sasanid yaitu Al-Hirah, serta mengalahkan Pasukan Sassaniyah dalam penaklukan Irak (Mesopotamia). nantinya digeser ke front Barat untuk menaklukkan Suriah (provinsi Romawi) dan Negara Boneka Bizantium Arab yaitu Ghassanid.

Meskipun Umar Bin Khattab di zaman Khalifahnya memberhentikannya sebagai panglima tertinggi pasukan muslim, namun ia tetap menjadi pemimpin yang efektif dari pasukan yang tersusun untuk melawan Kekaisaran Byzantium selama tahap awal dari Peperangan Romawi Timur-Arab.  Dibawah komandonya, Damaskus ditaklukan pada tahun 634 dan kunci kemenangan Arab melawan pasukan Kekaisaran Byzantium dicapai pada Pertempuran Yarmuk,(636) yang menyebabkan penaklukan Bilad al-Sham (Negeri Syam/Levant). Pada tahun 638, di puncak-puncak karirnya sebagai panglima perang, Khalid diberhentikan dari jabatannya.

Khalid dikatakan mengikuti sekitar seratus pertempuran, baik pertempuran besar dan pertempuran kecil serta duel tunggal, selama karier militernya ia tetap tak terkalahkan, ia tercatat sebagai salah satu jenderal militer atau panglima perang terbaik dalam sejarah.

Diantara perang yang ia pimpin :
1. Perang Uhud (Sebagai Pemimpin kaum Quraisy melawan Nabi Muhammad dan pasukan Islam)
2. Perang Mu’tah (Clash Pertama Rashidun dengan Kerajaan Romawi Timur)
3. Penaklukan Persia
4. Penaklukan Romawi Timur
5. Perang Yarmouk (Pertempuran legendaris Rashidun Caliphate vs. Byzantine Empire)

Di akhir hidupnya, Khalid mengatakan bahwa dia ingin mati sebagai syahid di medan pertempuran, tetapi takdir membawanya untuk wafat di kasurnya. Kesedihan Khalid dikatakan dalam kalimatnya yang tercatat dalam sejarah, yakni :

“Aku telah bertempur di banyak pertempuran & peperangan, dan ingin mati sebagai syahid dimana tubuhku terluka oleh sabetan pedang atau tombak. Tetapi, inilah aku, sekarat diatas kasur seperti onta yang sudah tua...”

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Si Pedang Allah Yang Selalu Terhunus (Saifullah Al Maslul)"

Post a Comment