Search This Blog

Alas Kaki


Tidak sengaja mata saya tertuju pada seorang kakek tua yang entah dari mana datangnya berada dibawah lampu merah ditengah jalan. Kakek itu berpakaian lusuh dan tidak menggunakan alas kaki, dia duduk seperti menunggu atau mencari sesuatu. Tidak lama kemudian dia bangun sambil setengah merangkak, tangannya berpegang pada trotoar, raut mukanya terlihat seperti kesakitan, rupanya kakinya yang tak menggunakan alas kaki kepanasan karena menginjak aspal.

Terbayang beratnya penderitaan kakek itu sendirian ditengah terik matahari tanpa menggunakan alas kaki. Ya Allah, saya perhatikan disekitarnya tidak terdapat kardus, kain atau benda apapun yang dapat digunakan untuk alas kakinya. Tapi dia tetap berusaha untuk berdiri sambil kakinya jinjit kepanasan sementara matanya tampak mencari-cari sesuatu untuk digunakan sebagai alas kaki. Kekek itu mulai menjadi pusat perhatian para pengguna jalan lainnya, banyak yang terlihat bersimpati ada juga yang tidak perduli melewatinya sambil lalu.

Tiba-tiba ada seorang ibu di atas sepeda motor tua Honda Grand Astrea Impressa yang diboncengkan suaminya sambil menggendong anak melepas sandal sawallo barunya yang sebelah kanan dan melemparkannya kepada kakek tua itu. Sementara sandal yang sebelah kiri dilepaskan oleh sang suami dan dilemparkan kembali kepada sang kakek. Terlihat sekali raut muka kakek itu berubah seketika antara haru dan gembira menerima pemberian itu.

Setelah mengucapkan sesuatu kakek itu berdiri kemudian menyeberang jalan dengan perlahan, tidak lama lampu merah berubah menjadi hijau, saatnya meneruskan perjalanan, si ibu yang berada di atas sepeda motor juga melanjutkan perjalanannya tanpa menggunakan alas kaki. Rasa panas yang tadi saya rasakan seketika menghilang setelah melihat kejadian tersebut, betapa mulianya ibu tadi memberikan sandal jepit yang masih bagus dan juga diperlukannya tanpa pikir panjang kepada seorang kakek tua yang tidak dikenalnya.

Saya yakin Sandal tadi adalah termasuk barang  istimewa yang dicintai oleh si Ibu walaupun hanya sandal jepit swallow karena biasanya kalau kita bepergian kita akan menggunakan barang yang terbaik atau paling tidak yang kita rasa pantas untuk dipakai bepergian. Diantara yang melihat kakek tua tadi ada banyak orang yang tidak peduli, banyak juga yang bersimpati termasuk saya dan hanya satu yang bersimpati dan beraksi yaitu si Ibu Tadi.

Yang paling dibutuhkan oleh kakek tadi adalah alas kaki, tidak sekedar simpati apalagi rasa tidak peduli. Memang benar satu orang yang simpati lebih baik daripada seribu orang yang tidak peduli, namun satu orang yang beraksi karena simpati itu lebih baik daripada seribu atau bahkan satu juta orang yang hanya bersimpati saja.

Semoga saja kita bisa menjadi orang yang beraksi dan bersimpati terhadap apa yang terjadi disekitar kita. Aamiin

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Alas Kaki"

Post a Comment