Search This Blog

Srintil

kerinduan pada seorang Ibu...

Srintil sebuah cerita yang diceritkan  secara tutur tinular (mulut ke mulut) dari generasi tua ke generasi muda begitu selanjutnya dalam sebuah dongeng yang apik, bersahaja yang sarat dengan perjuangan dan derita kehidupan yang dialami oleh anak manusia ...

Srintil terekam dalam pikiran penulis ketika masih kecil, lemah dan sakit-sakitan yang sedang digecel atau dipijat oleh sii Emmbah Gembeng, sambil menggecel sii Embah pun mendongen menceritakan kehidupan Srintil... dalam benak pikiran penulis dikala itu, Srintil tergambarkan sebagai sosok anak manusia yang terlahir di zaman yang jahil dengan penuh penderitaan dan perjuangan dalam menitih jalannya kehidupan, sehingga  membikin penulis kecil susah tidur, aras-arasen dan berlinang air mata bila mengingatnya, dan dalam hatinya selalu bertanya "kenapa? dan mengapa? penderitaan seberat yang dialami Srintil kok ada."

Srintil terlahir ditengah-tengah keluarga yang berada dan terhormat, ayahnya pak Sumo adalah seorang petani sukses, lahan dan sawahnya sangat luas, sedangkan ibunya  bu Rawiyati adalah seorang wanita cantik, lembut dan baik hati. Srintil anak pertama yang dinanti oleh kedua orang tuanya selama 7 tahun, ketika bu Rawiyati hamil, hati pak Sumo sangat bahagia ia merasa seolah-olah sebagai laki-laki yang paling bahagia di dunia, karena sebentar lagi akan dikaruniai seorang anak, anugrah dari sang kholik, pembuat kehidupan ini.

Tapi nasib tidak bisa diminta dan tidak ada seorangpun yang tau, pasca melahirkan anaknya yang pertama bu Rawiyati jatuh sakit, dan kondisinya semakin kritis, pendarahan dari rahimnya tak kunjung berhenti. Dalam kondisi lemah yang semakin lemah bu Rawiyati memanggil suaminya. "Pak...! pak Sumo suamiku! dimanakah anakku, izinkanlah aku menggendongnya walau hanya sekali ini saja!" "Jangan berkata seperti itu bu! Ibu akan selalu menggendong anak kita, akan merawat dan membesarkan anak kita, bersama buu!" Jawab Pak Sumo,  "tidak pak! aku semakin lemah, mungkin aku tidak akan hidup lama lagi, aku sudah tidak kuat pakkk!" sambil menyerahkan anaknya ke istrinya berlinanglah air mata pak Sumo, sekali lagi bu Rawiyati memanggil suaminya "Pak! biarlah aku yang memberi nama anak kita, akan ku beri nama ia dengan nama Srintil" lalu bu Rawiyati mencium kening anaknya, ciuman terakhir seorang Ibu kepada anaknya, "ya bu! nama yang bagus saya senang sekali dengan nama itu," jawab Pak Sumo.  Sekali lagi bu Rawiyati memanggil suaminya, "pak! aku mengantuk sekali, aku kepingin tidur pakk...!" lalu pak Sumo mengambil Srintil dari gendongan istrinya, dan menaruh srintil disebelah ibunya, bu Rawiyatipun  tertidur dan tidur untuk selamnya! "Tidakkkk...." teriakan pak Sumo memecahkan keheningan malam itu. Sungguh teriakan yang menyayat hati, berpisah  dengan orang yang dicintai, disayangi untuk selama-lamanya.

Kini si jabang bayi Srintil telah mejadi seorang Piyatu, menjalani hidup tanpa seorang ibu, konon katanya ibu adalah seorang Malaikat yang siap mengorbankan jiwa dan raganya untuk melindungi anaknya, ibu akan siap kedinginan asal anaknya dalam kehangatan, ibu rela kelaparan asal anaknya kenyang, ibu akan rela terjaga semalaman asal anaknya bisa tertidur lelap, nafas seorang ibu adalah do'a untuk anaknya. Semuanya itu, Srintil sekarang sudah tidak punya, Srintil tidak pernah mengetahui dan melihat siapakah dan bagimanakah wajah dari Malaikatnnya, yang setiap waktu siap berkorban untuk dirinya. Maka bersyukurlah kita semua yang masih punya seorang ibu! "Alhamdulillah Ya Allah ya Robb" sekali lagi bersyukurlah kalian semua yang membaca cerpen ini.  lalu siapakan malaikat yang akan menggantikan posisi seorang ibu bagi Srintil? tiada lain tiada bukan pak Sumolah, yang bertidak sebagai seorang ibu dan ayah bagi Srintil.

Srintil tumbuh menjadi anak yang cantik, lembut, cerdas dan pintar persis sekali dengan mendiang ibunya, sosok bu Rawiyati benar-benar menjelma dalam diri Srintil, Srintil bahagia sekali bersama Bapaknya begitu juga sebaliknya, tiada waktu sedetikpun dalam benak pikiran pak Sumo untuk melupakan Srintil, Kala bekerja di ladang. Senang karena hasil ladang melimpah, begitu juga ketika hasil ladang mengalami kepailitan atau kegagalan, si kecil Srintil selalu terbayang dalam pikirannya sebagai penghibur lara.

Genap sudah usia Srintil 7 tahun, seumur pernikahan pak Sumo dan bu Rawiyati sebelum mereka terpisah di alam yang berbeda, sama juga dengan lamanya pak Sumo menanti kelahiran anaknya Srintil yaitu 7 tahun. Kini pak Sumo mulai berubah setelah dia kenal dengan sosok wanita cantik dan molek dengan nama Nona Merry, makan terasa tidak enak, tidur pun tidak nyenyak! wajah cantik dan tubuh molek nona Mery selalu tergambar pada pikiran pak Sumo. Bahkan kenangan dan penderitaannya selama ini dah lenyap dari pikiran pak Sumo, Srintil kecilpun merasakan perubahan pada sosok ayahnya yang akhir-akhir ini temperamental (mudah marah). Dalam hati kecilnya, Srintil bertanya "mana ayahnya Pak Sumo yang dulu?" inilah awal penderitaan Srintil, apalagi ketika pak Sumo memutuskan untuk menikah dengan nona Merry.

Pernikahan pak Sumo dan nona Merry pun berlangsung dengan sangat meriah, pesta selama 7 hari  dan 7 malam pun diselenggarakan, pak Sumo menjual hapir 80 % dari ladangnya karena permintaan nona Merry yang mau menikah dengan pak Sumo asal diselenggarakan pesta yang besar selama 7 hari dan 7 malam. Si Kecil Srintil pun terlantar, sudah makankah?, sudah mandikah atau sudah berganti bajukah ia?, tidak ada seorangpun yang peduli, karena pengganti Malaikatnya sudah terlena dalam pelukan nona Merry yaitu ibu Tirinya sendiri. Inilah awal penderitaan Srintil.

Penderitaan Srintil menyulap pikiran dan jiwanya lebih cepat dewasa dari anak seusianya, yang memaksa dia kehilangan masa anak-anaknya. Ketika teman yang lain sedang asik bermain ia sibuk bekerja dari menutu padi, memasak, mencuci, bahkan sampai mencari kayu bakar. Si kecil Srintil yang melakukan. Sedangkan pekerjaan ibu tirinya hanya bersolek di depan cermin, marah-marah dan memerintah! sungguh derita anak tiri yang tiada tara. Sedangkan bapaknya yang selama ini menjadi tempat mengadu dan memohon perlindungan, harus bekerja ektra keras dari pagi sampai petang untuk memenuhi kebutuhan istri barunya Merry yang kelewat mewah sebagai orang kampung.

Lengkap sudah penderitaan Srintil dikala ibu tirinya melahirkan anak yang pertama sekaligus sebagai adik tirinya, Srintil harus bekerja siang dan malam, karena disamping bekerja pekerjaan rumah srintil harus menjaga, mengganti popok dan menyuapi adik tirinya jika ibunya Merry kepingin tidur atau istirahat.

Pak Sumo sudah mulai sakit-sakitan, kerutan diwajahnya sudah memenuhi hampir seluruh wajahnya, dia terlihat lebih cepat tua dari orang seusianya, karena terfokus pada pekerjaannya yang terlalu sangat keras karena tuntutan kebutuhan istrinya yang luar biasa mewah. Seluruh ternaknya sudah habis terjual dari sapi, kerbau, kambing bahkan ayampun tak tersisa lagi! Apa lagi ketika ia tahu kalau Merry sedang hamil anaknya yang kedua. Dia semakin bingung, bagaimana nanti memenuhi kebutuhannya? terutama untuk menyambut kelahiran anaknya yang kedua dari nyonya Merry. Istrinya  Merry berpesan setidaknya untuk menyambut kelahiran anaknya yang kedua, harus diadakan pesta, memotong seekor sapi atau minimal seekor kambing, dan itu harus, tidak boleh tidak, kalau itu tidak dipenuhi, instrinya menuntut berpisah dengan pak Sumo.

Hari kelahiran anaknya yang kedua semakin dekat, sedangkan apa yang diminta belum terpenuhi, iblis sudah menguasai otak dan akal  nyonya Merry, sehingga ide jahat, kejam serta bengis tumbuh dipikirannya, yaitu menjadikan anak tirinya Srintil untuk disembelih dan dagingnya dijadikan pesta menyambut kelahiran anaknya yang kedua. Nyonya Merrypun memanggil Srintil! "Srintil kemari nak!" "ada apa bu!" Jawab Srintil. "Aku mempunyai permintaan sekaligus pilihan untuk kamu?" "apa itu bu? Seandainya aku bisa pasti akan aku penuhi permintaan ibu" jawab Srintil! sebentar lagi aku punya hajat besar menyambut kelahiran adikmu yang ke dua, tapi bapakmu sampai sekarang belum bisa membeli seekor sapi ataupun kambing, seandainya sampai esok lusa dia masih belum bisa memenuhinya, akan aku tinggalkan ia sendiri biar gila dia, kau tau sendiri kan! kalau bapakmu sangat mencintaiku, bila aku tinggalkan! dia akan gila! Srintil tekejut dan kasihan sama bapaknya, baginya ia lebih baik menderita asal orang yang dicintainya dan disayangi bahagia, itulah kemulyaan dan ketulusan hati Srintil, tapi sayang keberuntungan sangat jauh darinya. Lalu Srintil pun bertanya sama ibu tirinya, "terus apa hubungannya denganku buu?" "kau bisa menolong bapakmu asal engkau memenuhi permintaanku," Jawab nyonya Merry.  "Apa itu buu?" korbankan dirimu untuk aku jadikan pesta menyambut kelahiran adikmu yang kedua.

Betapa terkejutnya Srintil bagai disambar petir disiang hari, dalam hatinya bertanya, "kenapa ayahnya bisa kenal wanita sekejam ini? ini bukanlah manusia tapi Iblis." Srintil menangis bukan untuk kemalangannya, tapi untuk nasib ayahnya yang jatuh cinta dan memperistri wanita berhati iblis. Srintil menarik nafas dan mengambil keputusan yang terbaik menurutnya, "saya siap untuk disembelih ibu, tapi ada satu syarat biarlah kepalaku utuh buu dan taruhlah kepalaku dipinggir sungai dan bungkuslah dalam kelasa pandan, "biarlah kepalaku hanyut bersamaan dengan datangnya banjir ibu!" Jawab Srintil. Dia sudah begitu rindu serindu-rindunya pada malaikatnya yang tak pernah ia lihat seumur hidupnya yaitu ibundanya, dalam hati kecilnya, yang sudah hancur luluh lantak sejak pertama kali ayahnya kenal dan jatuh cinta pada nona Merry, dalam kesendirian dia rindu sekali, rindu teramat rindu hingga tidak dapat dilukiskan dengan kata apapun didunia ini, yaitu kerinduan pada ayahnya yang dulu, sosok Pak Sumo yang hanya menyayanginya sebagai seorang Ibu dan Ayah bagi Srintil. Semua sirna bersamaan dengan hadirnya nona Merry dalam kehidupannya sebagai seorang Ibu Tiri, yang berpenampilan bidadari tapi berhati Iblis.

Adik kedua Srintil telah lahir, tapi pak sumo belum pulang juga, inilah saatnya Srintil disembelih oleh ibu tirinya dan tubuhnya akan dijadikan pesta untuk menyambut tamu ibunya, sesuai dengan pesan terakhir Srintil, Nyonya Merry membungkus kepala Srintil dalam kelasa pandan, tanpa merasa takut, salah dan berdosa sedikitpun, kemudian dia menaruhnya dipinggir bantaran sungai Ngepang dekat rumanya, sebelum pulang wanita iblis ini memotong telinga Srintil untuk dimasak dan diserahkan pada anaknya yang pertama.

Dalam waktu kurang dari dari dua jam, tumbuh Srintil sudah jadi masakan yang siap dihidangkan, lalu nyonya Meri menghidangkan telinga Srintil kepada anaknya yang pertama yang sudah merengek kelaparan, pada saat itulah Pak Sumo pulang, dan disambut anaknya yang pertama  dari Nyonya Merry. "Pak! Pengdok inuk Pak! Pengdok inuk pakkk!" (pak! kuping atau telinga kakak inuk/enak pak.!) karena tidak memahami omongan anaknya yang masih pelo, pak Sumo tidak begitu menghiraukan anaknya, dia lalu pamit pada istrinya untuk mandi di sungai Ngepang dulu.

Betapa terkejutnya pak sumo melihat ada bungkusan kelasa pandan dipinggir bantaran sungai Ngepang, karena penasaran dibukalah bungkusan itu, lalu sekuat tenaga ia berteriak "Srintiiiilll anakkkkku..." bersamaan dengan itu muncullah banjir bahh yang teramat dahsyat dari hulu sungai Ngepang dan memusnahkan pak Sumo bersama kepala anaknya Srintil untuk selamanya ...
Musnahlah Srintil bersama penderitaannya, selamat jalan Srintil...
"Srintiiiiiiiiillllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllll"

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Srintil "

  1. Alur yang bagus, jalan cerita yang begitu mencekam, hingga saya emosi saya pun terlibat ketika si srintil akan disembelih dijadikan pesta penyambutan kelahiran adik tirinya. Benar benar malang kehidupannya. Saya menantikan konten Anda selanjutnya. Sukses selalu.

    ReplyDelete
  2. Kisah yang sungguh begitu tragis, cerpen ini bisa membuat pembaca semakin penasaran, sangat baik, Jadi itu kisah tragis si Srintil, makasih untuk ulasannya πŸ‘Œ

    ReplyDelete